Ramadhan Tanpamu

Satu minggu terakhir, hati saya berantakan.

Walau ada senang di awal bulan Juli, dengan hari ulang tahun saya (banyak yang memberikan ucapan selamat baik di Facebook, Path, sms, bbm, WhatsApp, dan yang paling fantatis ucapan selamat ulang tahun di twitter, sampai saya mendapat peringatan dari Twitter karena banyaknya mention),  dan banyak hadiah yang saya terima, namun tetap tak mampu menyenangkan hati yang lara.

Nyaris setiap bersimpuh berdoa kepada-Nya, airmata selalu tumpah membasahi pipi, bahkan pada suatu titik, saya menangis kuat meluapkan segala kerinduan. Ya, saya rindu sangat kepada Mama dan Bapak almarhum, orang-orang terkasihi yang dalam dua tahun terakhir ini, berturut-turut pergi menghadap Sang Khalik, meninggalkan kami, anak dan cucu-cucunya.

mama-bapak

Saya cengeng, biarlah.

Saya tidak ikhlas, bisa jadi.

Mencoba untuk ikhlas itu ternyata susah sangat dijalankannya. Banyak hal yang membuat kerinduan ini terasa menyesakkan. Suara Bapak almarhum yang menelepon dini hari, hanya untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun kepada putri sulungnya. Bapak yang tak pernah lupa mengingatkan kalau 1 Juli adalah hari kelahiran saya, hari kebanggaannya sebagai seorang Bapak. Lalu, Mama yang tak pernah lupa untuk mengajak makan bersama, agar kebersamaan keluarga besar tetap terjalin di antara kesibukan yang mendera dan tempat tinggal yang berjauhan.

Kesedihan saya semakin memuncak karena Ramadhan menjelang. Untuk pertama kalinya saya merasakan betapa sedihnya menjadi yatim piatu. Saya pikir, ketika berkeluarga, punya anak suami yang selalu berada di sekitar kita akan membuat kita melupakan kesedihan, namun ternyata tidak. Saya merasakan sedih yang menikam hati, tak berdaya, oleng, dan rasa kehilangan itu masih terus saja mengikuti karena hadirnya bulan Ramadhan. Tahun ini, Ramadhan datang tanpa kedua orangtua tercinta.

Di keluarga besar kami ada kebiasaan, di awal Ramadhan untuk berbuka puasa bersama. Kami akan merasakan masakan Mama seperti lontong sayur Medan, bubur durian, arsik, dan tentu saja rendang dagingnya, yang membuat adik-adik saya yang laki-laki, Wahyu dan Arie, bisa nambah nasi berkali-kali.

Ah, betapa kenangan itu semakin mendera dengan datangnya bulan Ramadhan tahun ini. Ramadhan tanpamu, Mama dan Bapak. Ramadhan yang mungkin akan terasa panjang dengan kenangan-kenangan yang terserak di setiap sudut relung hati.

Saya tahu kesedihan yang berlarut itu tak baik.

Saya tahu, saya harus ikhlas merelakan Mama dan Bapak almarhum.

Saya juga tahu, yang ada di dunia ini adalah milik-Nya, dan harus kepada Sang Pemilik.

Tapi, ijinkan saya menikmati rasa kehilangan ini dengan cara sendiri, dan berjanji tak akan larut dalam kesedihan, akan terus mengirimkan doa untuk Mama dan Bapak almarhum, agar mereka merasa tenang dan bahagia di sisi Allah SWT.

 

 


CATEGORIES : Keseharian,